Selamat datang di blog saya pada kesempatan ini kita akan membahas cara membuat egrang dari batok. Permainan Egrang Batok atau Batok Kelapa berasal dari Provinsi Sulawesi Selatan. Permainan ini biasanya dimainkan oleh suku Bugis. Bagi suku Bugis, permainan ini dikenal dengan nama Majjeka, yang berasal dari kata “jeka” yang artinya jalan.

Egrang

Cara Membuat Egrang Dari Batok

Egrang atau jangkungan merupakan tongkat atau galah dari bambu yang digunakan seseorang supaya bisa berdiri dalam jarak tertentu di atas tanah. Kalau dalam konteks pembahasan kita  ialah egrang yang bisa digunakan untuk berjalan.

Pada egrang ini kita diperlengkapi dengan tali pengikat untuk diikatkan ke kaki. Tujuannya agar kita bisa berjalan selama naik di atas ketinggian diatas batok. Kalau ini kosep egrang batok ya.

Pada dataran tinggi, pantai atau tanah yang labil, bangunan harus dibuatkan di atas jangkungan untuk melindungi supaya air, gelombang, atau tanah yang bergeser tidak merusaknya. Jangkungan sudah dibuat selama ratusan tahun yang lalu. Bukan hanya sebagai alat bangunan saja egrang juga bisa dikategorikan sebagai kerajinan dari bambu.

Permainan ini sudah tidak familiar lagi, walaupun di berbagai daerah memiliki sebutan dengan nama yang berbeda beda. Saat ini juga sudah agak sulit di temukan, baik di desa maupun di kota.
Namun, saat permainan ini mulai di kombinasikan dengan berbagai hal sehingga dapat berdampingan dengan dunia yang di katakan modern ini. Permainan Egrang lumayan terkenal di nusantara ini semisalnya pada daerah Sulawesi Tengah adalah salah satu provinsi yang ada di Indonesia.

Di sana terdapat satu suku bangsa yang bernama Kaili. Di kalangan mereka terdapat satu jenis permainan yang disebut sebagai tilako (nama lain dari permainan egrang). Berikut pengertian egrang dari sudut pandang orang Sulawasi

Egrang Menurut Orang Sulawesi

Makna dari tilako ialah sebuah permainan berjalan menggunakan alat yang berasal dari bambu dan pelepah sagu atau tempurung kelapa. Tilako selain nama sebuah permainan juga sekaligus nama alat yang dipakai untuk permainan tersebut.
Tilako itu sendiri ialah gabungan dari dua kata, yakni “ti” dan “lako”. “Ti” merupakan kata awalan yang menunjukkan kata kerja dan “lako” secara nahasa berarti “langkah/jalan”.
Dalam permainan ini “tilako” adalah alat yang digunakan untuk melangkah atau berjalan. Permainan ini dalam dialek Rai dikenal dengan kalempa yang juga merupakan gabungan dari dua kata, yaitu “ka” dan “lempa”.
“Ka” ialah kata awalan yang merujuk ke kata kerja dan “lempa” yang artinya “langkah”. Permainan ini ada juga yang memberi  nama lain yakni jejangkungan. Cara memainkan permainan ini sebetulnya beragam ini cuma salah satu dari banyak cara.

Egrang Batok

Egrang Batok, mungkin untuk anak-anak pedesaaan zaman dahulu nama itu tidak asing. Bahkan anak-anak pedesaan sangat fasih bermain egrang sederhana tersebut. Akan tetapi, saat ini sangat jarang ditemui anak-anak yang memainkan egrang batok, bahkan mungkin banyak anak yang tidak mengetahui bagaimana bentuk egrang batok.

Banyak manfaat yang bisa diambil dari cara membuat egrang dari batok. Beberapa manfaatnya adalah memberikan kegembiraan pada anak, mengasah kreativitas anak serta melatih motorik halus dan motorik kasar anak serta mengasah kreatiitas anak.

Selain itu, cara membuat egrang dari batok juga memupuk semangat anak dan mengajarkan anak untuk dapat memanfaatkan bahan di sekitar. Bermain egrang batok seringkali dilombakan. Berlomba secepat mungkin berjalan menggunakan batok kelapa tersebut dari satu sisi lapangan ke sisi lapangan lainnya.
Orang yang paling cepat dia lah yang menjadi pemenangnya. Cara membuat egrang batok cukup mudah. Bahan-bahan yang dibutuhkan juga sangat mudah didapatkan di pasar. Hanya dengan bahan tempurung kelapa atau yang familiar disebut batok, tali dan alat untuk melubangi batok, kita sudah dapat cara membuat egrang dari batok.

Alat  :

2 buah batok kelapa
Tali atau tambang
Parutan dan amplas
Cat dan kuas

 Cara Membuat Egrang Dari Batok :

1. Bersihkan batok kelapa dari serabutnya dengan menggunakan parutan dan amplas sampai halus.
2. Lubangi batok dengan menggunakan paku buat lubangnya pada bagian batok yang tidak terlalau  keras, tepat ditengah atas batok.
3.Sekarang gambar dan warnai batok sesuai keinginan.
4. Kalau catnya sudah kering, pasangkan talinya dari batok yang satu ke batok yang lain. Ikat talinya di bawah kedua tempurung batok.
5. Egrang batok sekarang siap-siap untuk digunakan

Pemain

Permainan egrang bisa dikategorikan sebagai permainan anak-anak. Pada umumnya permainan ini dimainkan oleh anak laki-laki yang berusia 7 hingga 13 tahun. Jumlah pemainnya 2 – 6 orang.

Tempat 

Permainan egrang ini tidak memerlukan tempat (lapangan) yang khusus. game ini bissa dimainkan di mana saja, asalkan di atas tanah. Jadi, boleh di tepi pantai, di tanah lapang atau di jalan. Luas arena permainan egrang ini cuma sepanjang 7 – 15 meter dan lebar kisaran 3 – 4 meter.

Aturan Permainan

Aturan dalam bermainn egrang dapat dibagi menjadi dua, yakni perlombaan lari dan pertandingan untuk saling menjatuhkan menggunakan cara saling memukulkan bagian bawah bambu.
Perlombaan adu kecepatan biasanya dimainkaan oleh anak-anak yang berusia antara 7-11 tahun dengan jumlah 2–5 orang. Sedangkan, permainan untuk saling menjatuhkan lawan umumnya dilakukan oleh anak-anak yang berusia antara 11 hingga 13 tahun dengan memakai sistem kompetisi.

Jalannya Permainan

Jika permainan hanya berupa adu kecepatan (lomba lari). Maka diawali dengan berdirinya 3-4 pemain di garis start sembari menaiki bambu masing-masing.
Ketika telah siap, orang lain yang tidak ikut bermain akan memberikan aba-aba untuk segera memulai permainan. Mendengar aba-aba itu, para pemain bersiap berlari menuju garis finish.
Pemain yang lebih dahulu sampai garis finish dinyatakan sebagai pemenangnya. Sedangkan, bagi permainan yang bertujuan untuk mengadu bambu masing-masing pemain.
Maka diawali dengan pemilihan dua orang pemain yang dilaksankan secara musyawarah/mufakat. Kemudian, mereka akan berdiri berhadapan. Jika telah siap, peserta lain yang belum memperoleh giliran bermain akan memberikan aba-aba untuk segera memulai permainan.
Mendengar aba-aba itu, kedua pemain akan mulai mengadukan bambu-bambu yang mereka naiki. Pemain yang mampu menjatuhkan lawan dari bambu yang dinaikinya dinyatakan sebagai pemenangnya.

Nilai Budaya Yang Terkandung

  • Kebudayaan

Pada kebudayaan yang terkandung dalam permainan egrang ialah kerja keras, keuletan, dan sportivitas. Nilai kerja keras tercermin dari semangat para pemain yang berusaha supaya bisa mengalahkan lawannya.

  • Keuletan

Keuletan tercermin dari proses pembuatan alat yang dipakai agar berjalan yang diperlukan keuletan dan ketekunan agar seimbang dan mudah digunakan untuk berjalan.

  • Sportivitas

Sportivitas tampak bukan hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang ketika berlangsungnya permainan, namun juga mau menerima kekalahan dengan lapang dada.

Tradisional Jawa

Orang Jawa mengenal berbagai macam bentuk permainan tradisional, yang sekarang sangat sulit ditemukan. Berbagai macam permainan tradisional tersebut memberi ruang ketrampilan bagi penggunanya.

Dengan kata lain, permainan tradisional Jawa tidak menempatkan relasinya dan bermain hanya secara pasif. Terlepas dari itu mereka harus aktif dan kreatif.

Karena, permainan tradisional Jawa memberikan rangsangan kreatif untuk relasinya. Salah satu jenis permainan tradisional Jawa yang biasa dikenal sebagai egrang.

Permainan ini mengibaratkan pemakai/relasinya lebih tinggi posisinya, ukurannya lebih tinggi daripada manusia. Bahan yang digunakan sebagai egrang ialah bambu, yang dibuat mirip tangga, tetapi mempunyai anak tangga hanya satu ada juga yang membuat cara membuat egrang dari batok.

Siapapun bisa memainkan egrang, tidak harus anak-anak, orang dewasapun boleh menggunakannya. Egran memiliki 2 versi yakni versi pendek, tetapi bisa pula versi tinggi.

Hal terpenting ialah ketika orang bermain egrang, posisi tubuhnya menjadi jauh lebih tinggi dari posisi yang sebenarnya. Sama seperti orang berdiri di tangga, atau naik di atas meja.

Tetapi permainan egrang sekarang sudah menjadi permainan yang langka untuk ditemukan. kemungkinan besar sudah mejadi permainan yang punah atau permainan egrang tidak lagi relevan di jaman sekarang.

Teknologi zaman sekarang membuat anak-anak terbiasa dengan eskalator yang tersedia di mall hanya berdiri tangga mampu membawa ia berjalan sendiri. Egrang seakan memberikan “rasa susah” dari fasilitas teknologi.

Sebaiknya lebih untuk memberikan referensi kultural bagi anak-anak sekarang yang terbiasa dengan permainan yang serba teknologi. Cara membuat dari egrang, barangkali anak anak bisa membuat jenis permainan tradisional Jawa lainnya yang sekarang sekedar sebagai kenangan menjadi kenyataan bukan sekedar imajinasi.

Oke cukup sekian yang bisa saya sampaikan tentang cara membuat egrang dari batok.

By Cendi

Saya adalah penulis aktif di bisnisusahaonline.com dengan ketertarikan yang besar pada perkembangan teknologi, terutama di sektor IT. Saya senang belajar hal-hal baru dan sangat bersemangat untuk berbagi pengetahuan seputar bisnis serta tips terkini dengan komunitas kami.